Garam adalah salah satu zat mineral yang sering dibutuhkan oleh setiap orang di berbagai aktifitas. Beberapa diantaranya digunakan sebagai bumbu makanan, pengobatan, kecantikan dan lain-lain. Kebutuhan garam semakin meningkat setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Sementara itu, Kementerian Perindustrian menghitung kebutuhan garam nasional per tahun sekitar 2,6 juta ton. Sektor yang paling banyak menggunakan garam adalah sektor industri, pangan dan farmasi. Namun sangat disayangkan, produksi garam dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan yang diperkirakan. Ketidakmampuan produksi garam dalam memenuhi kebutuhan sektor industri menjadi alasan Indonesia untuk impor garam. Permintaan garam impor yang tinggi tersebut dipicu oleh masalah yang dihadapi petambak garam dalam proses produksi yaitu perubahan iklim dan fasilitas yang digunakan pada tambak garam.
Jika dilihat dari proses produksinya, faktor cuaca sangat mempengaruhi proses produksi garam. Garam diproduksi dengan cara menguapkan air laut yang dipompa di petak lahan untuk membuat garam. Untuk mencapai evaporasi air garam diperlukan sinar matahari, angin, suhu dan kelembaban tertentu. Setelah beberapa hari, air yang berada pada petak lahan tersebut akan berkurang dan menjadi kristal garam. Akan tetapi perubahan iklim di Indonesia membuat petambak garam resah, intensitas hujan yang tinggi membuat produksi garam melamban. Akhir-akhir ini beberapa wilayah di Indonesia mengalami kemarau basah. Kemarau basah adalah sebutan untuk tingginya intensitas hujan pada musim kemarau. Intensitas hujan yang tinggi berpotensi mengurangi hasil produksi garam jika dibandingkan dengan hasil produksi pada saat kemarau normal. Akibatnya garam yang dipanen bisa berkurang atau menipis.
Dari permasalahan ini PT Kencana Tiara Gemilang bekerjasama dengan petambak garam, Universitas Brawijaya serta Dinas Kelautan setempat untuk membuat metode tambak garam yang tidak terpengaruh dengan perubahan iklim. Dari hasil riset tersebut muncul inovasi sistem tambak garam dengan menggunakan metode prisma.
Tambak garam dengan metode prisma ini menggunakan geomembrane sebagai dasar media lahan garam untuk mempercepat proses penguapan air laut dan atap untuk melindungi garam dari hujan. Metode ini berbentuk prisma dengan rangka bambu yang kuat. Geomembrane sendiri memiliki kelebihan tahan terhadap sinar ultraviolet, tahan terhadap larutan kimia yang berbahaya, kedap air, kuat, performa jangka panjang yang stabil, fleksibel serta memiliki elongasi yang cukup tinggi sehingga dapat dikombinasikan dengan berbagai desain struktur dan permukaan tanah.
Dengan menggunakan metode prisma pada tambak garam, petambak dapat berproduksi sepanjang tahun tanpa perlu khawatir dengan perubahan iklim. Hal ini juga berpengaruh pada hasil produksi. Dengan proses produksi sepanjang tahun hasil produksi dapat meningkat sebanyak tiga kali lipat dibandingkan tambak tradisional tanpa prisma garam.
Selain itu, kualitas garam yang dihasilkan dengan menggunakan metode prisma lebih bagus dari segi kualitas dan penampilan. Kualitas kristal garam yang dihasilkan menjadi lebih bersih jika dibandingkan dengan tambak garam tanpa prisma. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, garam yang lebih bersih biasa digunakan pada sektor industri. Dengan metode prisma garam, kami berharap bisa digunakan untuk memnuhi kebutuhan garam dalam negeri bahkan sangat dimungkinkan untuk ekspor. (K)
Sumber :